Oleh: Muhammad Farhan al Fadlil, Lc.
- Dzahirah Quran berangkat dari sebuah analisis tentang "dzahirah diniyah" atau fenomenologi agama.
- Dzahirah Quran berangkat dari sebuah analisis tentang "dzahirah diniyah" atau fenomenologi agama.
- Fenomenologi agama berngkat dari dua titik inti persoalan dalam sejarah umat manusia:
1) Apakah agama adalah bentuk jati diri alami yang dimiliki oleh manusia
2) Ataukah ia merupakan sebuah aksiden atau sebuah entitas yang terlahir dari serapan-serapan kebudayaan pemikiran.
- Pada poin ini, Malik bin Nabi menyimpulkan bahwa dua poin tersebut tidak terlahir dari fakta pertarungan gagasan antara kebenaran agama dan kebenaran ilmu (sains), karena baginya, ilmu tidak mampu membuktikan antara keberadaan tuhan dan ketiadaannya.
- Oleh karena itu, dia menyimpulkan bahwa dua kontradiksi di atas, lebih tepatnya, terlahir dari pertarungan dua gagasan (dua mazhab/ dua agama), yakni agama uluhiah dan agama madiyah.
- Dhahirah Nabawiyah atau Dzhairah Quraniyah adalah sebuah argumentasi keagamaan yang mencoba memposisikan agama sebagai bagian daripada jurnal atau arsip penting alam semesta berikut undang-undanh fisika yang dimuatnya.
- Dhahirah al-Quran adalah sebuah terma yang dibuat oleh Malik bin Nabi sebagai tiga fakta dalam al quran:
1) Wahyu
2) Ayat atau teks wahyu dan
3) Personalitas penerima wahyu atau kenabian.
- Pengertian i'jaz menurut Malik bin Nabi, adalah sebuah kitab yang tidak berasal dari manusia, atau sesuatu yang tidak mungkin dihasilkan oleh manusia.
- {قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعࣰا مِّنَ ٱلرُّسُلِ وَمَاۤ أَدۡرِی مَا یُفۡعَلُ بِی وَلَا بِكُمۡۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا یُوحَىٰۤ إِلَیَّ وَمَاۤ أَنَا۠ إِلَّا نَذِیرࣱ مُّبِینࣱ﴾ [الأحقاف ٩]
Bagi Malik bin Nabi, ayat di atas adalah hujjah atau argumentasi ilmiah yang kuat atas kebenaran al quran, yang ia artikan pula sebagai bukti kemukjizatan al quran.
Ia berpandangan demikian sebab sejarah panjang kenabian, mulai dari zaman Nabi Nuh As hingga pada masa Nabi Muhammad Saw, semua menyuarakan satu prinsip yang sama, yaitu ajaran tauhid. Maka tidak salah ketika al quran menyebutkan bahwa tidak ada kebaruan (bid'ah) pemikiran dalam konsep ilahiyah yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Salah satu model yang ia hadirkan dalam bukunya tersebut adalah Nabi Armiya', sosok nabi bani israel yang hidup pada abad ketujuh SM. Melalui kajian perbandingan agama, Malik bin Nabi membawa nuansa baru dalam karakter kajian i'jaz al quran. Dan pada titik ini pula, Mahmud Syakir merasa keberatan atas konsepsi Malik bin Nabi yang terkesan menyamakan antara dalil kemukjizatan al quran dan dalil kebenaran al quran.
Mahmud Syakir berusaha untuk berpegang teguh pada pemaknaan tunggal i'jaz dalam konteks tantangan (al tahaddi) al quran.
Bagi Mahmud Syakir, makna i'jaz yang sesuai dengan tantangan al quran sendiri kepada para pengingkar Islam adalah i'jaz dalam pengertian linguistik dan keluhuran makna dalam sastra al quran, atau yang populer disebut dengan unsur balaghiyah. Dan hal ini hanya berkaitan denga ilmu balaghah, sedangkan yang disasar oleh Malik bin Nabi adalah upaya untuk melihat keabsahan al quran dan kenabian yang lebih masuk akal dikategorikan sebagai bagian ilmu kalam.
Dengan melihat cara pandang di atas, kita bisa melihat titik tolak yang berbeda antara keduanya. Karena I'jaz al Quran selalu dikaitkan dengan tantangan untuk mendatangkan produk pembanding, maka sisi kemukjizatan al Quran terletak pada nilai keunggulan atas dua teks yang saling dibandingkan: teks al quran dan teks sastra atau syair arab. Begitulah pemikiran Mahmud Syakir.
Tapi Malik bin Nabi tidak ingin berhenti pada pemaknaan itu. Baginya, naluri sasrtra-ilmiyah semacam itu sudah jauh-jauh hari menghilang dari kesadaran umat muslim.
Akan tetapi pada waktu yang sama, Malik bin Nabi bergairah untuk membuktikan, atau katakanlah ia ingin merasakan sisi yang lain dari kemukjizatan al quran yang sesuai dengan zamannya. Pada poin ini, ia menawarkan gagasan Dzahirah Qyraniyah. Yakni melihat kebeneran al Quran dari kehadiran atau "Penampakan dirinya" dalam bangunan realiatas dan zamannya.
Kita tidak bisa tiba-tiba melihat sisi mukjizat hanya dari penampakannya yang sepintas, akan tetapi melalui rincian analisis terhadap unsur-unsur yang ada dalam dzahirah al quran itu sendiri, mulai dari unsur teks, kewahyuan, personal kenabian. Dalam proses analisis tersebut, Malik bin Nabi tidak hanya melibatkan unsur kebahasaan sebagaimana yang terpahami dalam kajian klasik, tapi mencoba membawanya pada sisi yang lebih modern, seperti pendekatan sejarah, psikologi, dan perbandingan agama.

0 Komentar