Islam dan Kegalauan Identitas intelektual

Oleh: M. Farhan Al-Fadlil



Salah satu hal paling khas ditemukan dalam pemikiran arab-muslim modern adalah "keresahan" mereka tentang identitas, dan hal itu setidaknya diisyaratkan sejak dari nama yang disandangnya sendiri: Arab-Muslim-Modern.


Dengan kombinasi tiga akar kata tersebut, setidaknya kita bisa melacak inti persoalan pada poin-poin berikut: siapakah bangsa arab tersebut? Bagaimana mustinya arab dan Islam dipahami serta dihayati secara bersamaan dalam menjalani kehidupan? Lalu dimanakah identitas arab-muslim dalam percaturan modernitas; akankah musti meningglakan kebudayaan arab-islam untuk menuju kebudayaan modern terbukti sukses memimpin peradaban modern sebagaimana terlihat di eropa? Ataukah bangsa arab masih perlu menjaga kearab-islam-annya yang mana hal itu tersimpan dalam realitas sejarah dan warisan masa lalu (turats)?


Kira-kira demikianlah yang ingin disampaikan George Tarabichi dalam bukunya Mazbahat al-Turats


Kecenderungan semacam ini rupanya tidak dialami oleh para pemikir arab muslim saja, tapi juga dialami oleh para akadimisi muslim-non arab juga. Kita bisa melihat bagaimana model pemikiran di Indonesia terbagi menjadi dua kubu: tradisionalis dan modernis. Kubu pertama biasanya disematkan kepada pesantren yang menjadikan turats sebagai kurikulum dan standar kualitas seseorang. Model kajiannya pun berfokus sesuai bidang keilmuan masing-masing. Orang yang mendalami ilmu fikih misalnya akan disebut fakih dan pakar jika dia menguasai kitab-kitab pokok yang menjadi rujukan fikih, dari level pemula (mubtadi) hingga level tinggi (muntahi).


Sedangkan, kubu kedua seringkali disematkan pada akademisi, yaitu orang yang belajar kelimuan islam di universitas-universitas dengan mengikuti gaya modern, seperti tidak lagi mengkaji satu kitab klasik dengan dibaca dari awal sampai akhir, akan tetapi diganti dengan model pembasahan tematik berkait ide, sejarah atau fenomena tertentu perihal dunia Islam. Model kedua ini seringkali disebut dengan islamic studies, yaitu model pengkajian yang tidak lagi mengikuti gaya lama yang disipliner, melainkan lebih menekankan analisis khas barat seperti psikologi, sosiologi, antropologi, sosio-politik dan lain sebagainya.


Jika di pesantren, ilmu dipahami sebagai bagian dari amal dan keyakinan, maka hal itu berkonsekuensi kesadaran selektif seorang murid (santri) untuk memilih seorang guru yang terbukti alim dan salih agar bisa menjadi contoh, pembimbing dan  insiprasi bagi dirinya dalam menghayati pengetahuan yang dia miliki. Dan hal itu berbeda dengan model islamic studies yang menjadikan Islam sebagai objek kajian semata dan tidak harus menjadi bagian dari keyakinan yang dia miliki. Dampaknya, terkesan wajar jika seorang mahasiswa muslim dibimbing oleh dosen non-muslim dalam materi-materi kajian yang islamis seperti studi al quran, fikih, sejarah nabi dan Islam dan seterusnya.


Ringkasnya, dari dua model pendidikan dan kajian di atas, seringkali terjadi benturan-benturan (meski tidak selalu demikian) antara keduanya. Pihak modernis menyerang kaum tradisionalis karena dianggap kolot dan melestarikan pemikiram konservatif. Dan dari tradisionalis juga mengritik kaum modernis karena banyak nilai-nilai yang telah disepakati atau diakui keabsahannya oleh para ulama ditentang dan diterjang batas-batasnya. Seperti kajian terhadap al-quran yang tidak lagi menggunakan pendekatan ulmul quran, perumusan fikih yang tidak lagi mengikuti rumusan usul fikih sebagaimana termanifestasikan dalam empat mazhab, seruan untuk merumuskan kembali prinsip akidah yang tidak lagi sama dengan asy'ariyah dan maturidiyah dan lain sebagainya.


Benturan-benturan semacam ini masih berlanjut sejak permulaan abad lalu hingga masa kini, dan itu cukup sebagai bukti bahwa buku-buku tentang pemikiran islam modern yang dibaca dan dicetak saat ini merupakan wujud pertahanan dan perdebatan identitas: tentang apa itu arab, islam dan modernitas. Dan pada konteks yang lain, bisa juga kita samakan: apa itu Nusantara, Islam dan modernitas?



*****


Kita kembali pada George Tarabisi. Dalam bukunya Mazbahah al-Turats, ia membicarakan Zaki Nagib Mahmud dengan membedah karyanya berjudul Tajdid al-Fikr al-Arabi. Menarik sekali ketika penulis kondang dan filsuf Mesir itu ikut diseret oleh Tarabisi ke golongan " Para Penyembelih Turats" kontemporer.


Dari penjelasan Tarabisi, kita mencatat bahwa pembacaan terhadap turats secara pasif tanpa disertai upaya reaktualisasi ide-ide, bagi Zaki Nagib Mahmud, hanya menghasilkan pengulangan secara menyeluruh dalam berbagai bidang, baik dalam ilmu pengetahuan, kesenian dan kesusastraan, kemudian semua itu dibungkus dengan sesuatu yang menarik bernama " kebudayaan". Mengapa semua itu bisa terjadi? Zaki Nagib Mahmud menjawab: karena para ilmuwan, seniman dan sastrawan kita tidak mengerjakan tugasnya secara totalitas, akan tetapi sekedar "mengisi waktu kosong" semata. Oleh karena itu, dia memiliki satu pandangan yang sama dengan David Hume, bahwa kebudayaan (taqlidiyah) semacam itu layak untuk dilemparkan kepada api.


Pandangan Zaki Nagib Mahmud terlihat begitu sinis ketika dia mengatakan bahwa turats Islam sudah kehilangan urgensinya jika dibandingkan pada masa kini. Alasannya sederhana: karena turats Islam selalu khas dengan ciri teosentrisnya (hubungan manusia dengan tuhan), sedangkan spirit modernitas adalah mengorientasikan segala nilai pada antroprosentrisme (antara manusia dengan manusia semata). Pada titik inilah George Tarabishi menilai kerancuan nalar fundamental Zaki Nagib Mahmud bermula, karena pandangan tersebut mengandaikan bentuk saling menegasikan secara mutlak antara teologi dan ontologi. (lihat Mazbahah at-Turats hal-67)


Setidaknya ada tiga poin kesalahan nalar yang dicatata oleh Geoge Tarabisi sebagai konsekuensi kerancuan nalar Zaki Nagib Mahmud di atas:


1) Benturan konsepsi dunia-akhirat.

2) Alegori Goa: Ketepenjaraan dunia aktual atas dunia teks/ masa lalu yang diibaratkan sebagai goa.

3) Keniscayaan benturan antara turats dan modernitas. 



Pada poin pertama, dia mengira bahwa turats Islam tidak memiliki sumbangsih sama sekali terhadap dunia kehidupan duniawi umat Islam. Ia mengklaim bahwa warisan masa lalu hanya bisa mengantarkan manusia untuk mendapat kedamaian akhirat semata, sedangkan yang dibutuhkan manusia bukan semata akhirat, akan tetapi kehidupan duniawi pula. 


Lalu pada poin kedua, Zaki Nagib Mahmud mengatakan bahwa apa yang diwariskan oleh para pendahulu kita itu adalah ucapan-ucapan, teori dan persoalan-perooalan yang faktanya tidak bisa dimengerti oleh manusia pada masa kini. Ia mengambil contoh pada fakta perdebatan kelompok-kelompok teologis (firaq islamiyah) masa lalu yang mana perdebatannya tidak lagi relevan dengan masa kini. Hal itu, singkatnya, membuat ilmu-ilmu telogi masa lalu tak ubahnya seperti alegori goa, yaitu ucapan orang-orang goa yang tidak sesuai dengan realitas di luar goa. Dan pada poin ketiga, Zaki Nagib Mahmud telah begitu yakin kalau antara pikiran turats dan pikiran modernitas, keduanya sulit untuk disatukan. (Lihat hal. 67-69)


Dari jalan pikiran semacam itu, George Tarabisi menyimpulkan bahwa proyek Tajdid al-Fikr al-Arabi yang ditulis oleh Zaki Nagib Mahmud tak lebih dari sekedar proyek pembaharuan yang menempuh jalan pembunuhan terhadap turats. Saat ia mengatakan, " ibarat turats masa lalu dan masa sekarang adalah antara yang mati dengan yang hidup", maka saat itu pula ia semakin yakin bahwa nilai dan fungsi dari sebuah ilmu baginya terletak pada sisi kegunaannya yang murni empirik. Maka tidak heran jika dia mengritik para ahli fikih dan ilmu kalam yang menurutnya tidak bisa memenuhi kriteria kemajuan zaman karena hanya bsrkutat seputar penulisan syarah dan hasyiyah belaka. Itu semua adalah teks, belum sampai pada pembangunan realitas. Teks tidak bisa memproduksi barang, juga tidak bisa membikin pesawat terbang.


Begitulah jadinya kalau melihat turats Islam melalui kaca pragmatisme. Segala yang tidak ada hubungannya dengan realisasi ide secara konkrit, maka ia tidak layak disebut sebagai ilmu. Jadinya, keluasan  ilmu dikebiri, hakikat-hakikat pun dibatasi. Bukankah itu berlawanan dengan eksistensi Islam paling dasar: pengakuan dan ketundukan akan Zat yang Maha Tunggal yang menggerakkan alam semesta ini, dan itu pun bukan barang zahir, akan tetapi tersimpan pada batin manusia: ruang samar bagi entitas zahir.

Posting Komentar

0 Komentar