Catatan Kajian Nalar Turats
27 Febrari 2026
Adz Dzahirah al Quran yang diusung oleh Malik bin Nabi berangkat dari dua aspek yang saling berkaitan, yaitu aspek hostoris dan aspek perkembangan metodologis. Pada aspek pertama, dia mencatat adanya perkembngan pemikiran yang tidak sehat dan berpotensi mencederai akidah umat Islam. Dia mengambil sosok Margoliouth dan Toha Husain sebagai sampel kajiannya. Pasalnya, kedua tokoh ini mengajukan sebuah gagasan yang dinilai kontroversial, yakni pengingkarannya atas keberadaan Syair Jahili. Bagi Malik bin Nabi, berani menggingkari eksistensi syair jahili sama saja merobohkan bangunan rasional umat Islam dalam keilmuan sastra arab, yang selama ini disebut-sebut sebagai pondasi utama memahami status kemukjizatan al Quran.
Sebab itu, sebagai respon atas kecenderungan tersebut, Malik bin Nabi berusaha untuk menemukan sebuah metode yang sesuai dengan zamannya. Hal itu tidak lain disebabkan nihilnya naluri sastrawi alamiah seperti yang dimiliki oleh orang arab pada masa al Quran diturunkan, atau naluri sastrawi ilmiah seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan arab pada setelahnya, seperti yang terwakili dalam Nazm al Quran karya Al Jahiz, I'jaz al Quran karya Al Baqillani dan Dalail I'jaz karya Abdul Qahir Jurjani dan lainnya.
Bagi Malik bin Nabi, dua potensi tersebut tidak lagi dimiliki umat Islam masa kini, terkhusus umat muslim yang bukan golongan atau tidak lagi tinggal di negeri arab.
Maka tidak mustahil bagi seorang muslim modern untuk berusaha dan mencoba merasakan kehadiran I'jaz al Quran dari perspektif yang lain, dengan memandang urgensitas i'jaz sebagai penyambung tali akidah keimanan.
Spirit pembaruan makna i'jaz di sini berangkat dari sebuah hadis:
ما من الانبياء نبي الا واتي من الايات ما مثله آمن عليه البشر، وانما كان الذي اوتيته وحيا اوحي الي، وانا ارجو ان اكون اكثرهم تابعا يوم القيامة.
Jika setiap nabi memiliki kemukjizatan yang membuat umat pada masanya beriman dan mengikuti ajaran mereka, maka begitu pula al quran mestinya dimaknai demikian adanya. Dan pada poin ini, Malik bin Nabi mempercayai akan pentingnya aktualisasi makna i'jaz sesuai dengan konteks zaman masing-masing.
Untuk melihat lebih jelas kerangka berpikir yang ditawarkan oleh Malik bin Nabi, kita perlu mengetahui bagaimana pengertian i'jaz menurut tafsirannya. Ia menuliskan:
اهل اللغة يرون ان الاعجاز هو الايقاع في العجز. واهل الاصطلاح يرون ان الاعجاز هو الحجة التي يقدمها القران الى خصومه من المشركين ليعجزهم بها.
Kalau kita cermati tafsiran ini, akan tampak sebuah kemusykilan kemanakah arah gagasan Malik bin Nabi tersebut diarahkan, apakah terkhusus kepada kemukjizatan al quran? Ataukah sisi kemukjizatan nubuat atau ajaran Nabi Saw secara umum?
Kemusykilan ini bukan beraarti lahir dari ruang kosong belaka, akan tetapi dari konsekuensi-konsekuensi makna daripada gagasan Malik bin Nabi itu sendiri. Kita bisa melihatnya juga pada kalimatnya berikut:
فاما حين نريد تحديد هذا المصطلاح في حدود التاريخ، اي في تطور ادراك البشر ل (حجة) الاسلام خاصة، فلا بد من مراجعة القضية في ضوء تاريخ الاديان.
( Malik bin Nabi, Dzahirah al Quraniyah, hal. 60)
Jika benar yang hendak disasar oleh Malik bin Nabi adalah upaya menjangkau atau mengerti hujjah kebenaran Islam melalui kajian analisis fenomenologi al Quran, lalu apa kaitannya dengan kemukjizatan al quran? Kejanggalan ini juga telah disampaikan oleh Mahmud Sayikir dalam kata pengantar buku Bin Nabi tersebut. Ia menegaskan, soal sisi hujjah kebeneran nubuat bukanlah hal yang sama dengan sisi hujjah kebenaran I'jaz. Jika poin pertama masuk pada diskursus ilmu kalam, maka pada poin kedua kita menemukan pembahasannya pada diskursus ilmu balaghoh.
Kalau kita melihat sejarah pemikiran Islam, akan kita temukan keragaman pendapat mengenai sisi-sisi I'jaz. Ada yang menyebutnya terletak pada kemampuan al Quran menyampaikan khabar gaib, kisah-kisah umat terdahulu, atau kabar kejadian masa depan yang akurat. Ada juga yang meletakkannya pada sisi Sharfah, yakni keterhalangan jiwa atau kehendak orang arab untuk membuat teks yang sepadan dengan al Quran. Ada pula yang mengatakan, dan ini adalah pendapat paling kuat, letak kemukjizatan terletak pada sisi nazam atau sisi balaghah. Meskipun demikian, semua sepakat bahwa kemukjizatan al quran terletak pada sisi keluhuran nilainya yang berada diatas kemampuan nalar dan sastra manusia. Jadi selalu ada perbandingan antara dua hal yang diukur untuk diketahui kualitasnya, mana bikinan manusia dan mana yang berasal Sang Pencipta alam semesta.
Namun, model kajian ini tidak kita temukan pada Malik bin Nabi. Dia menawarkan sesuatu yang unik, melihat kebenaran al Quran dari fenomena kenabian, dimana sejarah telah mengisahkan kepada kita tentang keberadaan para nabi yang ternyata membawa ajaran yang konsisten, sejak era Nabi Ibrahim As hingga era Nabi Muhammad Saw.
Secara spesifiknya, Malik bin Nabi mengangkat sosok Nabi Jeremiyah ( ارمياء), yakni seorang nabi dari golongan bani israel yang hidup pada masa abad ketujuh sebelum masehi. Malik bin Nabi mencatat bahwa kondisi sosial dan politik umat pada abad tersebut mengalami kemerosotan yang luar biasa. Dan hal itu rupanya berangkat dari krisis nilai keagamaan yang sekurang-kurangnya berangkat dari dua hal:
Pertama: Upaya mereduksi makna ketuhanan yang bersifat universal menjadi sebuah eksitensi yang sempit, yakni tuhan kelompok atau bangsa tertentu ( الهي قومي).
Kedua: Masuknya ritual-ritual dan ajaran sesat yang diaerap dari bangsa kaldaniyah seperti menjadikan matahari sebagai dewa sesembahan.
Berangkat dari fakta demikian itu, para nabi diutus mengembalikan umat kepada ajaran yang benar, yakni tauhid. Dan Nabi Jeremiah berada diantara Nabi yang diutus tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ, Malik bin Nabi juga mengangkat tema Psikologi Kenabian, dimana dari kisah-kisah nabi terdahulu, selalu didapatkan fakta dimana para nabi tidak pernah mengaku atau membuat-buat cerita bohongan tentang keberadaan dirinya. Mereka adalah orang-orang yang datang kepada umat sebagai orang yang diperintahkan membawa tugas kenabian. Artinya, selalu ada kekuatan yang mengatur dan berada di luar kendalinya atau disebut sebagai wahyu. Dalam hal ini, Malik bin Nabi mengangkat kisah perihal psikologi kenabian seperti yang dialami oleh Jeremiah:
لقد صرت محور سخرية طيلة النهار، فالجميع يهزؤون بي، لاني كلما تكلمت وجدتني مضطرا لان اصرخ، واعلن الجبروت والخراب، لقد صارت كلمة الله بالنسبة لي مصدر عار واستهزاء مستمر، فاذا قلت لم اعد اذكره او اتكلم باسمه، وجدت في قلبي كالنار المضطرمة المستكنة في عظامي، فاحاول ان اطفئها ولكني لا استطيع. "
(Dzhahirah, hal. 95)
Pada kisah ini, secara jelas Jeremiah menerangkan pengalaman batinnya, dimana alih-alih orang-orang mengikuti firman yang disampaikan oleh Jeremiah, mereka malah berbuat sebaliknya dengan menjadikan Jeremiah bahan ejekan dan olokan, dan saat Jeremiah berupaya tidak lagi menyampaikan wahyu yang dia dapatkan, dia merasakan dalam dirinya seolah ada api yang membara dan membakar seluruh tulang-tulang di tubuhnya.
Bagi Malik bin Nabi, fenomena-fenomena semacam ini adalah bukti kebenaran al Quran. Dimana para nabi bukanlah segerombolan manusia yang acak dan membawa tugas kenabian yang saling berlawanan, akan tetapi semua mengarah pada suatu substansi yang sama dan konsisten. Dalam hal ini, Malik bin Nabi mengutip sebuah ayat:
( قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعࣰا مِّنَ ٱلرُّسُلِ وَمَاۤ أَدۡرِی مَا یُفۡعَلُ بِی وَلَا بِكُمۡۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا یُوحَىٰۤ إِلَیَّ وَمَاۤ أَنَا۠ إِلَّا نَذِیرࣱ مُّبِینࣱ) [الأحقاف ٩]
Pada poin ini, Malik bin Nabi telah berhasil membuktikan kebenaran al Quran melalui fenomena kenabian yang termuat dalam data-data sejarah. Dia berhasil membuktikan bahwa Nabi Muhammad adalah benar sebagai nabi, dan al Quran tidak berasal dari dirinya sebagai manusia biasa, akan tetapi sebuah wahyu yang dia terima dari Sang Pencipta, Allah azza wa jalla. Namun gagasannya ini memunculkan sebuah pertanyaan: apakah membuktikan kebenaran al quran dan kenabian Nabi Muhammad Saw berarti membuktikan kebenaran mukjizat? Bukankah kita bisa mengetahui kebenaran Nabi Muhammad Saw dengan hal-hal di luar al Quran, yaitu lewat mukjizat-mukjizat nabi yang kasat mata dan empiris, seperti keluarnya air dari jari-jemari beliau atau kemampuan nabi membelah rembulan? Dan kita juga mengetahui kalau kitab-kitab para nabi terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil semuanya berasal dari wahyu tuhan, tapi semua kitab tersebut tidak memiliki sisi i'jaz yang sama dengan al Quran? Sekali lagi, kemukjizatan dalam pengertian apakah yang ia kehendaki dalam penerapan metode yang ia tawarkan, yang kemudian ia sebut dengan dzahirah quraniyah?

0 Komentar