Ditulis oleh: M. Farhan al Fadlil, Lc.
Pada ulasan-ulasan sebelumnya, telah kita pahami bahwa titik sentral kajian Malik bin Nabi dalam Dzahirah al Quraniyah adalah upaya manusia modern untuk mengidentifikasi sisi i'jaz dalam al Quran melalui kesadaran aktualnya. Tidak ada keraguan sama sekali soal kesahihan sisi i'jaz yang bersifat balaghiyyah, namun yang dikerjakan oleh Malik bin Nabi itu semacam membuka harapan untuk didapatkannya penemuan-penumuan lain dari khazanah i'jaz yang teramat luas.
Pada kali ini, kita akan mencoba menjajaki tokoh yang lain yang memiliki nafas pemikiran yang serupa dengan Bennabi. Dia adalah Syekh Muhammad Said Ramadhan al Buthi.
Dalam karyanya berjudul La Ya'tihi al Baathil, ia menulis banyak isu seputar al Quran dan melontarkan jawaban dan serangan tajam kepada para pengritik al Quran di era modern.
Salah satu isu yang diangkat adalah seputar I'jaz, dimana terdapat segelintir orang yang mengklaim telah berhasil membuat tandingan al Quran. Sama seperti frasa bikinan Musailamah al Kadzab:
الفيل، وما أدراك ما الفيل، له ذنب وبيل وخرطوم طويل.
Sejarah telah membuktikan betapa al Quran adalah kitab suci yang melampaui zaman dan satu pun belum ada yang terbukti mampu mengungguli kualiatasNya. Berkaitan dengan klaim-klaim dan kehendakan menyaingi teks al Quran, al Buthi mengutip kalimat Abu Ala' al Ma'arri yang cukup singkat:
ان احدهم يستنجد بما يملك من البيان، ليأتي بشيء من مثل القران، فتخونه سليقته العربية، وتغيب عنه ملكته، فلايأتي الا بمرذول الكلام وسخيفه. فيتكتم على عمله ويطويه عن فكره حذرا من التشنع عليه وتضاحك الناس منه.
Menurut al Ma'arri, kehendak untuk menghadirkan teks dengan muatan bayani yanh sepadan dengan al Quran termasuk perbuatan yang sia-sia belaka, karena faktanya dia tidak memiliki potensi itu, dan hanya akan membohongi dan menghianati bakat alaminya sendiri. Bahkan, seringkali yang dihadirkan berupa teks yang murahan dan menjadi bahan tertawaan oleh para penyair.
Namun, menariknya, Al Buthi menawarkan sebuah konsepsi I'jaz bikinannya sendiri. Ia menyebutnya مظهر جلال ربوبية القران, " Panorma Keilahian Teks al Quran". Dengan i'jaz ini, mustahil manusia mampu menyaingi kualitas al Quran.
Konsepsi ini berangkat dari analisis ilmiah terhadap relasi antara teks dan pengarang. Bagi al Buthi, sebuah kalimat yang lahir dari ucapan atau tulisan adalah penanda bagi situasi jiwa seseorang. Kita tidak bisa memisahkan kehadiran sang tokoh pada tiap teks, karena sesuatu yang ada di luar tersebut diibaratkan sebagai cerminan dari yang di dalam. Demikianlah gambaran sederhana dari al Buthi: tiap kalimat adalah cermin dari jiwa pengarang. Sebab itu, sekuat apapun seseorang berusaha meniru model kebahasaan tokoh sastra yang lain ( logika al Buthi di sini terlihat mirip dengan prinsip Mimesis dalam terapan ilmu seni dan sastra menurut Aristoteles dan Plato), sang peniru tidak akan benar-benar berhasil mencapai kesamaan dengan tokoh yang ditiru. Seperti para sastrawan arab modern misalnya, dia tidak akan persis sama dengan model bahasa Al Jahidz meski berusaha sekuat tenaga untuk menirunya. Hal itu, tidak lain disebabkan keunikan sebuah jiwa sastra yang mustahil untuk ditiru dan dijiplak satu sama lain.
Dari logika cermin dan jiwa sastra ini, Al Buthi sampai pada rumusan i'jaz yang dia usung tadi, yaitu Panorama Keilahian al Quran. Jika mustahil untuk mendapatkan persamaan antara sastra-sastra yang diciptakan oleh manusia, lalu bagaimana mungkin ia bisa dibanding-bandingkan dengan teks yang berasal dsri Tuhan. Al Buthi menuliskan:
فاذا اتضح لنا ان الفوارق النفسية تحول دون امكان تقليد كل منا للآخر في اسلوب الكتابة والقول، على الرغم من وجود الانسانية العامة جامعا مشتركا بين الجميع، فاحرى في باب البداهة والوضوح ان لا يستطيع انسان من الناس ايا كان، ان يتجرد عن بشريته وطبيعته الانسانية، ثم يجعل من نفسه الها يتصف بكل ما يتصف به الاله من الصفات الربانية المضاد للطبيعة البشرية، ينطق بكلام صاف عن شوائب نفسيته البشرية.
( Al Buthi, La Ya'thihi al Bathil, hal. 226)
Setiap yang lahir dari manusia, mustahil akan menhindari sisi manusiawi yang menjadi pertanda dirinya. Begitu pun teks yang berasal dari Tuhan, akan identik dengan sisi ketuhanan, baik dalam potret kehendak, ilmu dan kuasaNya. Dan pada poin itulah sisi mukjizat yang dimaksud. Pada tiap kalimat dan makna yang dihadirkan dalam al Quran, akan kita temukan sebuah panorama keilahiannya, mazhar jalal rubibiyatihi.
Ada banyak contoh ayat yang dijadikan contoh oleh al Buthi, salah satunya terlihat jelas dalam ayat berikut:
ذَرۡنِی وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِیدࣰا ١١ وَجَعَلۡتُ لَهُۥ مَالࣰا مَّمۡدُودࣰا ١٢ وَبَنِینَ شُهُودࣰا ١٣ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِیدࣰا ١٤ ثُمَّ یَطۡمَعُ أَنۡ أَزِیدَ ١٥ كَلَّاۤۖ إِنَّهُۥ كَانَ لِـَٔایَـٰتِنَا عَنِیدࣰا ١٦ سَأُرۡهِقُهُۥ صَعُودًا ١٧ إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ١٨ فَقُتِلَ كَیۡفَ قَدَّرَ ١٩ ثُمَّ قُتِلَ كَیۡفَ قَدَّرَ ٢٠ ثُمَّ نَظَرَ ٢١ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ٢٢ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ٢٣ فَقَالَ إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّا سِحۡرࣱ یُؤۡثَرُ ٢٤ إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ ٢٥ سَأُصۡلِیهِ سَقَرَ ٢٦ وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧ لَا تُبۡقِی وَلَا تَذَرُ ٢٨ لَوَّاحَةࣱ لِّلۡبَشَرِ ٢٩
Menurut al Buthi, ayat ini diturunkan dan diarahkan kepada salah satu pembesar orang kafir qurais, Walid bin Mughirah. Pada ayat ini, digambarkan bagaimana dia tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad Saw dan berpaling dari petunjuk al Quran. Ia menyebut kalau al Quran bikinan Nabi Saw semata dan tak lebih dari sekedar tipu daya sihir. Sebab ulahnya itu, telah dipastikan secara nash bahwa kelak dia akan masuk neraka Saqar. Poin i'jaznya adalah darimanakah khabar tentang kejadian masa depan itu berasal. Seumpama al Quran berasal dari Nabi Saw, lalu bagaimana cara beliau mengetahui kalau Walid akan mati dalam keadaan kafir dan masuk neraka Saqar, sedangkan pada waktu yang sama, malah terdapat orang yang lebih jahil, ingkar dan lebih kafir selain Walid bin Mughirah yang justru berakhir masuk Islam. Atau bisa saja, Walid bin Mughirah diam-diam beralih masuk Islam, dan dengan itu akhirnya akan terbukti kebohongan Nabi Saw. Masih ada banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lain. Tapi, secara fakta hostoris, semua itu tidaklah terjadi yang menjelaskan pula sisi kebenaran al Quran. Inilah yang dimaksud Panorama Keilahian al Quran, sebuah potensi makna yang tidak mungkin digapai oleh selain yang ilahi.
Tidak berhenti di sini saja, hakikat tersebut tidak mungkin dibatalkan, sekalipun oleh manusia yang mengaku sebagai Tuhan seperti dalam kasus Firaun.
وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرِی فَأَوۡقِدۡ لِی یَـٰهَـٰمَـٰنُ عَلَى ٱلطِّینِ فَٱجۡعَل لِّی صَرۡحࣰا لَّعَلِّیۤ أَطَّلِعُ إِلَىٰۤ إِلَـٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّی لَأَظُنُّهُۥ مِنَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ (القصص: 38)
Ketika al Quran menceritakan sosok Firaun yang mengaku sebagai tuhan, tapi pada waktu yang sama, ada sekurang-kurangnya tiga poin yang justru membatalkan pengakuan keilahian tersebut: (1) ketika dia meminta kepada Haman untuk dibuatkan bangunan yang tinggi agar bisa melihat Tuhannya Nabi Musa As, (2) ketika dia menggunakan kata لعل yang secara harfiah menunjukkan makna harapan, dan itu tidak lain disebabkan sisi kelemahannya sendiri, (3) saat dia mensifati Tuhannya Nabi Musa As menggunakan prasangka belaka, dimana secara hirarki ilmu pengetahuan, prasangka jelas berada di bawah level ilmu pengetahuan. ( hal. 231)
Apa yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil daripada gambaran Panorama Keilahian al Quran. Melalui gambaran demikian, mustahil manusia mampu membuat tandingan dariada al Quran. Sampai kapanpun, manusia tidak mampu keluar dari batas-batas manusiawinya, dan pada kondisi demikian itulah terpahami batas-batas i'jaz dirinya. Proses ilmiah yang dilakukan oleh Syekh Buthi memiliki kemiripan yang teramat dekat dengan Dzahirah al Quraniyah Bennabi. Bedanya, Bennabi lebih menekankan posisi al Quran sebagai bagian fenomena sejarah yang senantiasa eksis dan aktual. Sedangkan, al Buthi lebih mengarah pada sisi-sisi terdalam daripada teks, atau lebih tepatnya menghayati teks melalui jiwa kodrati; teks sebagai cermin dari jiwa sastrawi.

0 Komentar