Oleh: M. Farhan Al-Fadlil
Sebagai seorang pengkaji keilmuan Islam, mungki perlu mengajukan pertanyaan: apa fungsi mempelajari mukaddimah Ibnu Khaldun saat ini?
Guna membaca Mukaddimah Ibnu Khaldun adalah mempelajari bangunan pemikiran yang bisa dipakai sebagai alat pembacaan sejarah melalui suatu konsepsi yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai ilmu al umran ( sosiologi).
Sebagai contoh, kita bisa melihat dari Ibnu Khaldun sendiri yang berusaha membaca dan merumuskan poin-poin penting dari sejarah Islam masa lalu.
Ringkasnya, ia membandingkan— dalam fakta maju-mundurnya ilmu pengetahuan— antara Magrib, Andalus, dan Masriq (mencakup Khurasan, negara-negara seberang sungai tigris dan Kairo. Ibnu khaldu menyimpulkan bahwa kemunduran kajian pemikiran Islam di Magrib disebabkan oleh mundurnya sebuah peradaban yang ada di sana. Hal itu berdampak pada merosotnya kajian ilmu-ilmu Islam ditandai merosotnya minat serta kualitas sistem pemebelajaran yang ada. Ilmu-ilmu fikih cuman disikapi secara formalitas semata, dan ilmu-ilmu logika, bahkan hampir musnah sepenuhnya.
Fakta demikian itu berbeda dengan negara-negara Islam Timur yang masih menjadi simbol kemajuan pemikiran Islam dengan bukti maraknya wacana pemikiran yang ada, ditemukannya para pakar dan ahli dalam masing-masing bidang yang menjadi bukti hidupnya industri ilmu pengetahuan yang ada.
Hal itu terbukti pada pengiriman delegasi pelajar ilmu agama dari Magribi menuju timur. Di sana, terdapat ulama-ulama hasil didikan Fakhrudin Razi yang ilmu-ilmunya diambil dan diepalajari oleh talibul ilmi dari magrib untuk kemudian di bawa ke Magrib sebagai penerus rantai keilmuan Islam yang hampir memudar di sana.
Dari sana, Ibnu Khaldun kemudian merumuskan sebuah kaidah bahwa suatu al hadoro ( peradaban) selalu memiliki sistem dan nilai etis tersendiri yang berdampak pada kemajuan sistem pangan, arsitektur bangunan, segala macam industri dan apa saja menyangkut urusan agama dan duniawi. ( Lihat Mukaddimah, jilid 2, hal. 169) Yang dimaksud dengan al hadoro di sini ialah sebuah entitas yang di dalammya memenuhi unsur-unsur kemajuan sebagaimana terlihat di Baghdad sebagai simbol kemajuan negara Islam di Timur, juga Cordoba dan Qairuwan yang menjadi simbol kemajuan Andalusia dan Magrib pada masanya.
***
Salah satu jasa Ibnu Khaldun adalah kemampuannya membumikan agama dan ilmu pengetahuan.
Kalau kita melihat sejarah keilmuan Islam, bangunan pemikiran Islam seringkali bersifat konstruktif. Jadi setiap dari disiplin ilmu, para ulama selalu berfokus pada pembentukan prinsip-prinsip dasar (mabadi) dan kaidah-kaidah ilmiah yang bersifat universal (kulliyah). Dari karakter konstruktif seperti ini kemudian diperpanas dan diperluas melalui perdebatan antar kelompok ( bisa disebut mazhab atau firqah) karena masing-masing mereka memiliki prinsip kebenaran masing-masing.
Kira-kira seperti itulah bangunan pemikiran Islam yang dominan hingga era Ibnu Khaldun. Barulah pada abad ke sembilan hijriah, Ibnu Khaldun membangun suatu disiplin ilmu yang selain berpusat pada teori, juga berpusat pada fakta lapangan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah sejarah kemanusian.
Hal itu terlihat dalam analisisnya, seperti yang diferangkan di atas, bahwa bentuk peradaban manusia akan berimbas pada segala yang ada di dalamnya, mulai dari industri sampai hal-hal keagamaan. Gara-gara negara chaos, maka jalannya ilmu pengetahuan (Islam) dipertaruhkan.
Dari sini terlihat jelas bagaimana bagaimana upaya Ibnu Khaldun membumikan agama, bahwa umat manusia yang hendak memperjuangkan nilai agama itu pada dasarnya masih menginjak bumi. Jika buminya damai, maka masyarakat agama sejahtera. Jika buminya gonjang-ganjing, maka tidak mustahil jika umat kian terbelakang. Jika titik sentral agama adalah kebenaran, maka lambang kemajuan dari sikap beragama adalah kamampuan pemeluknya menggunakan rasio dalam menyingkap nilai-nilai kebenaran tersebut, entah itu berupa ajaran-ajaran, filsafat atau kebijaksanaan yang mencerahkan kehidupan umatanusia. Dan itu semua, akan terjadi jika "umran basyari"-nya dalam keadaan maju dan mapan.
Oleh karena itu, pada bab al ulum fasal ke sembilan, Ibnu Khaldun menulis sebuah teosi yang mengagumkan: anna al ulum inama taktsuru haitsu yaktsuru al umran wa ta'dzimu al hadlarah; bahwasannya ilmu pengetahuan akan tambah maju jikalau diiringi dengan kemajuan sebuah peradaban umat manusia. ( Mukaddimah jilid 2 hal. 170)
Itulah menariknya Ibnu Khaldun. Jika pada masa-masa sebelum Ibnu Khaldun, manusialah yang selalu menjadi objek daripada ilmu. Dalam arti, ilmu pengetahuan tumbuh dan hadir sebagai alat doktrin yang mengatur kehidupan manusia. Seolah-olah antara ilmu pengetahuan dan manusia adalah dua entitas yang sama sekali berbeda; diibaratkan manusia adalah penduduk bumi, dan ilmu pengetahun entah dari mana tiba-tiba saja jatuh ke bumi untuk diikuti dan diterima oleh manusia.
Tapi melalui Ibnu Khaldun, kita melihatnya berbeda, bahwa hubungan saling mengikat antara ilmu pengetahuan dan manusia adalah hubungan fundamental yang tidak bisa terpisahkan. Artinya, ilmu memang dihasilkan oleh pikiran manusia, tapi tidak bisa ia datang ke suatu kelompok masyarakat untuk diterima begitu saja. Ibarat bibit unggul, dia menjadi tidak berguna jika ditanam di sebuah lahan yang gersang dan jauh dari kata produktif dan kesuburan. Begitu pun ilmu pengetahuan, ia bisa terus berdinamika jikalau manusianya sehat, waras dan berada pada taraf kesejahteraan yang ideal ( ta'dzimu al hadloroh).
.jpg)
0 Komentar